Sabtu, 25 Februari 2012

Perbedaan adalah Rahmat

Untuk memahami makna kata Rahmat, kita dapat melihat di dalam Al Qur’an dengan menggunakan indeks kata Al qur’an pada kata RAHMAT. Dari situ kita ketahui bentuk dari rahmat Allah kepada manusia, seperti : ditangguhkannya hukuman, diberikan petunjuk, keringanan hukuman, dihindarkan dari kesesatan, diutusnya seorang nabi pada suatu kaum, perilaku lemah lembut, diteguhkan pada kebenaran, dijauhkan dari azab, datangnya hujan, diberikan pengampunan, terhindar dari bahaya, disembuhkan dari penyakit, diselamatkan dari orang kafir, diberi kekuasaan, diberikan penjelasan, terhindar dari perselisihan, diberikan hikmah, tidak dilenyapkannya wahyu yang telah diturunkan, diberikan perlindungan, diberikan ilmu pengetahuan, dijaganya warisan, diberi keturunan yang shaleh, diberikan pendamping dalam perjuangan, dikumpulkan kembali dengan keluarga, diberikan kesabaran, dimasukkan ke dalam golongan orang shaleh,  diciptakannya malam dan siang, dihembuskannya angin, kapal yang dapat berlayar di lautan, dihidupkan bumi yang telah mati (ditumbuhkannya tanaman setelah turunnya hujan), rasa takut pada siksaan Allah, diperbanyak anak keturunan,  ditundukkan segala apa yang ada di langit dan di bumi bagi manusia, diberikan rasa persaudaraan sesama muslim, diberikan rasa  saling berkasih sayang sesama manusia, dihadiahkan surga di akhirat.

Jadi kita dapat menarik kesimpulan bahwa RAHMAT ALLAH adalah “KEMUDAHAN YANG MEMBERIKAN KELUASAN YANG MENCIPTAKAN KEDAMAIAN HIDUP”  pada segala sisi kehidupan manusia.
Jika pernyataan “Perbedaan adalah Rahmat” itu memiliki dasar hukum yang benar, maka sesungguhnya perbedaan itu akan melahirkan sebuah  “KEMUDAHAN YANG MEMBERIKAN KELUASAN YANG MENCIPTAKAN KEDAMAIAN HIDUP”  pada segala sisi kehidupan manusia.
Dalam metodologi Al Bait Al Atiq, kita mengetahui bahwa Ketentuan Allah meliputi segala sesuatu dan Ketetapan Allah adalah ketetapan dengan pola ruang yang tinggi dan luas dan Allah telah menetapkan petunjuk Nya sebagai ALAT PEMBEDA tentang bagaimana manusia membentuk pola gerak hidupnya sesuai dengan petunjuk  Allah.
Sesungguhnya perbedaan itu merupakan sebuah bukti tentang keberadaan (eksistensi) sesuatu.
Perbedaan adanya siang dan malam merupakan bukti adanya eksistensi keduanya antara terang dan gelap.Tidak kita mengetahui terang jika kita tidak mengenal gelap demikian sebaliknya.
Jadi jika perbedaan adalah Rahmat, maka perbedaan inilah yang mengukuhkan adanya eksistensi bahwa ada yang benar dan ada yang salah dalam kehidupan manusia.
Inilah Rahmat Allah dari diciptakannya perbedaan.
 Wallahu'alam Bissawab.

Catatan : Untuk lebih memahami makna pola ruang Al Qur'an dapatlah kiranya membaca tulisan dalam blog ini berjudul : Manhaj Al Bait Al Atiq

Minggu, 05 Februari 2012

SUMBER PERPECAHAN UMAT ISLAM

1. Kehilangan pola pikir Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW, yaitu pola pikir ruang.
2. Memperlakukan sejarah seperti seorang Marxist.
3. Membangun pola pikir piramida seperti :
a.Mengambil sebuah tafsir seorang ulama sebagai suatu paket utuh tanpa perlu perbandingan dan koreksi.
b. Hilangnya musyawarah.
c. Tidak memberi  tempat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
4. Menjadikan pola politik kekuasaan sebagai panglima (Politik adalah panglima).
5. Ketidaktegasan pemberlakuan hukum .
6. Menjadikan Al Qur’an sebagai sesuatu yang asing bagi perkembangan kebudayaan lokal yang dianggap hanya memaksakan pakaian gamis, memelihara janggut dan main ketimpring (arabisasi).
7. Meragukan kebenaran Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW salah satunya dengan melakukan pemisahan   antara Islam dengan negara dan mengakui adanya pembawa risalah yang lain setelah Rasulullah Muhammad SAW.

Wallahu’alam bissawab.

 Catatan : Untuk lebih memahami makna pola ruang Al Qur'an dapatlah kiranya membaca tulisan dalam blog ini berjudul : Manhaj Al Bait Al Atiq

Selasa, 31 Januari 2012

Tahapan metodologi Al Bait Al Atiq

Sebagaimana layaknya sebuah metodologi, metodologi Al Bait Al Atiq atau disebut juga metodologi ruang Ka’bah, memiliki beberapa tahapan – tahapan dalam membuka jalan menuju pada tujuan akhir dari ajaran Islam yaitu Kedamaian, Keberserahan diri dan menjadikan nilai nilai tersebut sebagai Rahmatan Lil Alamin yang berlandaskan pada nilai – nilai Tauhid dengan cara membangun Rukun Iman dan Rukun Islam.
Metodologi Al Bait Al Atiq adalah sebuah metodologi ruang yang di bangun diatas pondasi hukum dan tiang – tiang / rukun – rukun yang membentuk ruang tersebut.
Pondasi bangunan ruang metodologi ini adalah Al Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, sedangkan tiang – tiangnya adalah rukun Iman dan Rukun Islam.

Tahapan – tahapan metodologi Al Bait Al Atiq adalah sbb:
1.       Mengetahui pola takdir Allah.
Jika kita ibaratkan , pola takdir Allah seperti sebuah ruangan dimana di dalam ruangan tersebut telah terdapat dinding dan lantainya. Pada lantai ruangan tersebut telah terdapat pola garis – garis lantai / ubin / keramik lantai yang saling bersilangan satu dengan yang lainnya.
Ketika kita memasuki ruangan tersebut, garis – garis lantai itu telah ada sejak awal kita memasuki ruangan tersebut dan akan tetap ada tidak berubah kecuali bangunan itu dibongkar.
Garis – garis lantai tadi diibaratkan merupakan garis – garis ketetapan Allah dimana garis – garis tersebut sudah ada sejak awal dan tidak berubah sama sekali, namun ternyata garis – garis yang bersilangan itu membentuk ruang gerak bagi manusia dimana manusia memiliki kebebasan dalam memilih garis – garis mana yang akan dia lewati.
Garis – garis yang telah manusia lewati itu menjadi catatan perbuatan manusia, sedangkan yang belum dilewati masih menjadi misteri bagi manusia dan dalam menjalani garis – garis tersebut, seorang muslim diwajibkan berdoa kepada Allah agar terhindar untuk memilih garis yang merugikan kebebasan hidupnya karena di dalam ruangan tersebut berlaku suatu energi kekuatan yang mampu membuka atau menutup garis / jalan di dalam ruangan tersebut.
Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah bahwa takdir Allah adalah ketetapan yang detail dan bersifat mutlak tidak dapat berubah sejak awal hingga akhir, namun ketetapan Allah tersebut membentuk pola ruang gerak sebagaimana pola susunan Al Qur’an dan pola gerak thawaf yang memberikan ruang kepada manusia untuk dapat bergerak dengan bebas.
Ruang takdir Allah ini akan selalu bertambah luas dan bebas jika dalam kehidupan ini kita mendapat Rahmat dari Allah dengan cara mendirikan shalat, membayar zakat dan melaksanakan perintah Rasul, karena seluruh perintah Rasullulah Muhammad SAW pada intinya merupakan perintah mendirikan tiang / rukun (tiang = rukun) yaitu rukun Iman dan rukun Islam

2.       Memahami makna Asmaul Husna.
Asmaul Husna merupakan Nama – Nama Allah yang mengandung sifat – sifat Nya dan merupakan “Tangan Hukum” Nya. Dari penjelasan pada poin 1 di atas dikatakan bahwa dengan berdoa kita dapat terhindar dari hal – hal yang merugikan hidup kita serta ditunjukkan pada jalan yang benar, jalan yang lurus, jalan keseimbangan dan dalam berdoa kita disarankan menyebut Nama – Nama Allah seperti yang dicontohkan dalam Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW.
Asmaul Husna bukan saja merupakan Nama – Nama Allah yang mengandung Sifat – Sifat Nya, tetapi juga merupakan bentuk pengetahuan yang memuaskan akal pikiran kita tentang eksistensi Allah dan merupakan sebuah cara untuk menemukan Allah secara empiris yaitu suatu keadaan yang bergantung pada bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera.
Kebanyakan dari kita menganggap Tuhan adalah masalah keyakinan dalam arti hanya dapat ditangkap wujud Nya lewat keyakinan hati dan tidak dapat diungkap lewat akal pikiran.
Padahal sesungguhnya Islam  memerintahkan kepada kita untuk menangkap wujud Allah tidak saja lewat keyakinan hati namun juga lewat akal pikiran.
Asmaul Husna merupakan bahasa akal, yang harus diterapkan di dalam hati manusia. Hal ini didasarkan pada Hadits Nabi SAW : “Allah memiliki 99 Nama, barangsiapa menghapalnya dia masuk surga”.
Menghapal merupakan gerak akal, bukan gerak hati dan inilah kemudian yang menjadi dasar pernyataan bahwa Asmaul Husna merupakan bahasa akal dalam menemukan wujud Allah.
Allah itu Esa, Meliputi Segala Sesuatu, Tidak Serupa dengan Mahluk, Maha Nyata namun Maha Ghaib, dst (99 Asmaul Husna).
Disinilah kita diajarkan bagaimana berpikir dalam pola ruang, yaitu menyatukan segala hal yang jumlahnya banyak, saling bertentangan dalam satu pola ruang yang utuh, luas dan tinggi.

3.       Mencari koneksitas suatu masalah dalam ayat – ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW.
Koneksitas ayat – ayat Al Qur’an antara satu dengan yang lainnya dapat kita lakukan dengan menggunakan indeks kata dan dari sana kita dapat membuat sebuah kesimpulan.
Kesimpulan pribadi yang kita dapat berdasarkan hasil pengamatan tidak serta merta merupakan kesimpulan akhir, melainkan harus disandingkan dan diperbandingkan dengan hadits Nabi Muhammad SAW karena Nabi SAW merupakan rujukan berikutnya  yang akan menjelaskan kepada kita secara lebih nyata makna suatu masalah yang kita hadapi mengenai ajaran agama Islam.

4.       Membuat kesimpulan.
Kesimpulan yang dibuat atas sebuah masalah haruslah merupakan sebuah kesimpulan yang utuh dan lengkap hasil dari pencarian atas koneksitas ayat – ayat Al Quran dan Hadits Nabi SAW.

5.       Uji coba.
Uji coba dari kesimpulan yang kita dapat, kemudian kita sandingkan dan perbandingkan dengan realitas kehidupan kita baik dahulu maupun sekarang.
Uji coba pertama yang harus dilakukan adalah dengan menempatkan kesimpulan yang telah kita dapat pada pola ruang Ka’bah dan gerak Thawaf yaitu gerak menyeluruh pada seluruh isi Al Qur’an.

6.       Kesimpulan akhir.
Hasil Kesimpulan dari uji coba pertama harus kita uji coba lagi hingga menghasilkan kesimpulan yang kuat dan utuh.
Namun perlu diketahui bahwa berpikir dalam pola ruang sangat tergantung dari perkembangan pengetahuan manusia pada lingkungannya dan selalu menyerap pengetahuan yang berkembang. Setiap kesimpulan yang telah ada dapat terus “direvisi” kecuali tentang Rukun Iman dan Rukun Islam.


 Catatan : Untuk lebih memahami makna pola ruang Al Qur'an dapatlah kiranya membaca tulisan dalam blog ini berjudul : Manhaj Al Bait Al Atiq

ISLAM MARXIST

Jika kita mengamati  bagaimana umat Islam menyikapi sejarah, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kebanyakan kita saat ini memiliki pola pemikiran layaknya seorang Marxis yang menganggap bahwa keberadaan kita saat ini adalah hasil dari sejarah dan sejarah itu akan terus menerus kita bawa sebagai landasan bersikap.
Timbulnya banyak golongan dalam umat Islam kebanyakan hanya ingin mempertahankan “sikap sejarah” masa lampau padahal Islam mengajarkan bahwa sejarah hanya merupakan sebuah catatan masa lalu untuk dipelajari bukan hal yang dijadikan landasan bersikap.
Islam Syiah mengagungkan “luka sejarah” masa lalu, menciptakan tembok pemahamannya sendiri.
Islam Suni awalnya dipimpin oleh orang – orang yang memiliki dendam masa lalu atas kekalahan nenek moyang mereka (kafir Qurasy) atas kaum muslim terutama pada keluarga Nabi SAW dan dendam itu terus dilestarikan hingga ketika tiba saatnya untuk membalas,  mereka  membalas dengan sangat keji.
Kedua belah pihak akhirnya sampai hari ini tak dapat disatukan. Keduanya telah membangun temboknya masing – masing.
Yang harus kita bangun saat ini adalah umat Islam yang berpola pikir Ahlussunah Wal Jama’ah yang sesungguhnya  dengan kembali memahami sejarah sebagai  sebuah catatan yang dapat kita pelajari, bukan sebagai landasan kita bersikap atau merupakan hal yang menciptakan keberadaan kita saat ini.

 Catatan : Untuk lebih memahami makna pola ruang Al Qur'an dapatlah kiranya membaca tulisan dalam blog ini berjudul : Manhaj Al Bait Al Atiq

Senin, 28 November 2011

Kesalahan menginterpretasikan Al Qur'an

MENGINTERPRETASIKAN RUANG DENGAN GARIS

Sering kita dengar dan baca tentang kesalahan interpretasi Al Qur’an. Interpretasi yang berarti  pemberian kesan, pendapat, atau pandangan teoretis terhadap sesuatu; tafsiran; sering dinyatakan salah oleh seseorang ketika mendengar atau membaca suatu interpretasi atas suatu atau beberapa  ayat Al Qur’an.
Ketika seseorang menyatakan interpretasinya tentang Islam berdasarkan atas apa yang dia baca dalam Al Qur’an, dan kemudian berpendapat bahwa Islam adalah agama kekerasan dan teror dan menunjukkan ayat – ayat yang berhubungan dengan hal tersebut, maka sebagai seorang muslim, kita harus menyatakan persetujuan kita terhadap pernyataan tersebut malahan kita seharusnya kemudian memberikan tambahan bahwa Islam tidak hanya merupakan agama kekerasan dan teror, namun juga agama kuda, agama yang menakut – nakuti, agama poligami dan sebagainya.
Kita tidak dapat menolak hal tersebut dinyatakan, karena jika kita menolaknya berarti kita menolak ayat di dalam Al Qur’an. Namun yang harus sangat diketahui adalah pola pikir yang digunakan dalam melakukan interpretasi terhadap Al Qur’an.
Kita harus melakukan interpretasi terhadap Al Qur’an dengan pola Al Qur’an itu sendiri yaitu pola ruang yang menyeluruh dan terintegrasi secara utuh.
Interpretasi ayat Al Qur’an yang menghasilkan kesimpulan bahwa Islam adalah agama kekerasan dan teror adalah interpretasi dengan menggunakan pola garis,yaitu interpretasi yang sepotong – sepotong, tidak utuh, padahal pola gerak Al Qur’an adalah pola ruang.
Kita tidak dapat menyangkal interpretasi seseorang yang menyatakan hal tersebut karena interpretasi tersebut adalah seperti sebuah garis di dalam ruang, bahkan garis itulah yang ikut membentuk ruang. Namun sesungguhnya setiap garis itu terkoneksi dengan garis – garis yang lain di dalam ruang hingga membentuk ruang yang utuh.
Garis hanyalah bagian dari ruang namun garis bukanlah ruang. Ruang bukanlah garis namun ruang meliputi garis.
Sebagai contoh yang umum adalah adanya paham Jabariyah (fatalisme) dan Qadariyah (freewill). Kedua paham yang bertentangan tersebut memiliki dasar – dasar hukum yang tegas dan jelas di dalam Al Qur’an dan kita tidak dapat membantahnya.
Namun ternyata kedua paham yang saling bertentangan tadi sesungguhnya hanyalah memiliki landasan hukum yang sebagian sebagian saja, yang berarti paham Jabariyah dan Qadariyah hanyalah paham yang  lahir dari interpretasi yang tidak utuh terhadap Al Qur’an atau dengan kata lain menginterpretasikan ruang dengan pola garis dimana hasilnya tidak menyeluruh.
Jadi bila seseorang menyatakan bahwa Islam adalah agama kekerasan dan teror sambil menunjuk beberapa ayat di dalam Al Qur’an hal yang mendukung pernyataanya, maka kita tidak dapat membantah ayat tersebut, namun pernyataan tersebut tidak menyeluruh karena di dalam Al Qur’an juga terdapat ayat yang menyatakan cinta kasih terhadap sesama manusia, saling menghormati dan saling bekerjasama.
Hal yang paling sederhana tentang bagaimana membentuk interpretasi ruang terhadap Al Qur'an adalah dengan menggunakan indeks kata yang terdapat dalam Al Qur'an. Cara ini akan membentuk pola pikir kita meruang, luas dan tinggi. 

 Catatan : Untuk lebih memahami makna pola ruang Al Qur'an dapatlah kiranya membaca tulisan dalam blog ini berjudul : Manhaj Al Bait Al Atiq

Minggu, 20 November 2011

KETERBELAKANGAN UMAT ISLAM

ISLAM TERBELAKANG DALAM HAL APAPUN. Banyak tulisan tentang hal tersebut di berbagai media. Hal yang harus kita perhatikan dengan seksama karena hal ini menyangkut  eksistensi makna Islam sebagai rahmatan lil alamin.
Pandangan tersebut muncul dengan data – data yang dapat dikatakan akurat  dan memang dmikianlah keadaanya.
Namun ada beberapa pertanyaan balik terhadap kritik tersebut yaitu mengenai pola pikir apakah yang digunakan dalam menilai Islam yang menghasilkan jawaban bahwa Islam itu terbelakang dalam hal apapun ?.
Perlu kita ketahui bahwa Islam memiliki pola pikir yang berbeda dengan pola pikir yang pernah manusia manapun pernah ketahui. Pola pikir Islam adalah pola pikir ruang yang luas dan tidak dapat menerima pola pikir yang sempit.
Pola pikir Islam disadari ataupun tidak disadari merupakan pola pikir Al Qur’an yang berintikan pada nilai – nilai Tauhid yang memiliki keluasan yang terbentuk dari absolusitas hukum – hukum Allah. Setiap muslim yang pernah bersentuhan dengan Al Qur’an, tentulah memiliki pola pikir seperti ini disadari ataupun tidak disadari.
Ketika sekelompok orang menyatakan bahwa secara ekonomi umat Islam terbelakang, maka kita dapat balik bertanya dengan pola apakah mereka menilai umat Islam terbelakang dalam bidang ekonomi ?. Kebanyakan mereka menilai bahwa umat Islam itu terbelakang dikarenakan mereka menilainya dengan pola kapitalis atau pola lainnya diluar pola ekonomi Islam.
Jelaslah umat Islam terbelakang dalam bidang ekonomi  dalam system kapitalis karena umat Islam sesungguhnya tidak dapat menerima penerapan system ekonomi tersebut.
Kita telah menyaksikan bagaimana pola system kapitalis menggurita, namun pada kenyataannya system ini dibangun atas dasar penguasaan manusia atas manusia yang lain.
Ketika kapitalisme mulai goyah, maka harus ada yang dikorbankan agar kapitalisme dapat tumbuh kembali.
Kita tentu ingat krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 dimana negara kita, Indonesia terkena dampak paling buruk pada saat itu. Hal ini bukanlah yang yang tidak disengaja, melainkan hal yang sangat disengaja karena kapitalisme yang didasarkan atas penguasaan manusia atas manusia yang lain itulah yang menginginkan hal tersebut terjadi, karena gerak ekonomi kapitalisme pada saat itu telah jenuh dan membutuhkan korban baru untuk dieksploitasi.
Selain itu ada kekuatan ekonomi baru yang diharapkan mampu untuk dieksploitasi yaitu, China yang baru saja membuka dirinya bagi dunia luar sehingga harus diciptakan adanya ruang gerak bagi China untuk berkembang.
Jelas umat Islam terlihat terbelakang dalam bidang ekonomi kapitalis karena para ulama Islam menyadari bahwa sistem kapitalis bukanlah Rahmatan Lil Alamin sehingga tidak berkeinginan terlibat dalam sistem tersebut secara total termasuk sistem riba yang diharamkan dalam Islam dan dalam terpaan krisis ekonomi tersebut ternyata pola ekonomi ruang lah yang mampu bertahan. Para pengusaha kecil lah yang selalu diinjak – injak dalam sistem kapitalis tersebutlah yang mampu membangkitkan kembali perekonomian Indonesia untuk kembali bertarung dalam sistem kapitalis dunia, untuk kembali dieksploitasi.
“Invisible Hand” yang dimaksud oleh Adam Smith sesungguhnya merupakan rasa tanggung jawab dari manusia – manusia yang memiliki nurani terbukalah yang mengembalikan suatu keadaan yang hancur untuk kembali pulih kepada keadaan sediakala dan kesadaran nurani inilah yang dieksploitasi para kapitalis untuk kembali membangun kerajaan mereka dengan selalu menyatakan bahwa kapitalisme tidak akan pernah mati.
Demikian juga dalam bidang ilmu pengetahuan yang berpusat pada sistem kapitalis tersebut  dimana umat Islam terlihat terbelakang karena pola pengetahuan yang dibentuk tidak dapat memanusiakan manusia.
Dalam bidang politikpun, umat Islam dikatakan tidak memilki kekuatan politik yang kuat dan hal ini dapat kita buktikan sejak dahulu hingga saat ini. Hal inipun sesungguhnya disebabkan oleh kebingungan kita dalam mengikuti pola politik piramida.
Islam hanya mengenal pola politik Ka’bah, pola politik ruang, pola politik musyawarah, hingga para ulama Islam merasa sukar dalam menerapkan pola politik piramida yang merupakan lambang paganisme.
Perkataan ini bukanlah pelarian atas segala keterbelakangan yang terjadi, namun sesungguhnya demikianlah keadaan yang sesungguhnya terjadi.
Banyak yang mencoba melebur dan berbaur dengan sistem diluar Islam untuk mencari sintesa baru yang malah membuat pola ruang pikir Islam semakin menyempit.
Satu hal dari segala permasalahan yang dihadapai umat Islam yang harus kita perhatikan dengan sungguh – sungguh adalah bagaimana menemukan pola pikir Islam yang sesungguhnya, yaitu pola pikir yang berdasarkan Al Qur’an dan Al Hikmah, pola pikir Al Qur’an, pola ruang Ka’bah dengan pola gerak thawaf nya ( pola gerak melingkar dan menyeluruh ), pola pikir yang tidak ada tandingnya dimuka bumi ini sejak manusia itu ada hingga hari ini. Wallahu’alam.
Catatan : Untuk lebih memahami makna pola ruang Al Qur'an dapatlah kiranya membaca tulisan dalam blog ini berjudul : Manhaj Al Bait Al Atiq

Sabtu, 12 November 2011

the cube

The cube 

Enam ribu tahun yang lalu sebuah kubus di bangun kembali di muka bumi, di kota Mekkah, sebagai sebuah alat petunjuk yang datang dari langit.
Sebuah alat  yang  memiliki kode – kode rahasia yang harus dapat dipecahkan  akal fikiran manusia , sebab kubus ini dinyatakan sebagai petunjuk yang mampu membebaskan manusia dari segala macam penderitaan hidup di muka bumi.
Enam ribu tahun yang lalu, Ibrahim AS dibantu anaknya Ismail AS, merekonstruksi kembali bangunan kubus Ka’bah yang telah dibangun oleh manusia pertama, Adam AS yang kemudian hancur saat banjir besar datang pada zaman Nuh AS.
Petunjuk yang berisi kode – kode rahasia ini harus terus dijaga agar petunjuk dari  langit ini mampu dibuka lewat petunjuk kitab ruang , Al Qur’an.
Pola susunan Al Qur’an ini merupakan sebuah rekaman pola gerak dalam ritual ibadah Thawaf, yaitu ibadah mengelilingi bangunan Ka’bah. Sebuah ritual berkeliling Ka’bah yang di mulai dari Hajar Aswad, Multazam, Pintu, Hijir Ismail , Rukun Irak, Rukun Yaman dan kembali ke titik mula perjalanan yaitu Hajar Aswad dan ini diulang sebanyak 7 kali sebagaimana Allah menyatakan bahwa Al qur’an merupakan 7 ayat yang diulang – ulang.
Pola gerak melingkar ini bila kita runtut dan kita ucapkan dengan kata – kata merupakan sebuah gerak yang terputus – putus karena bagian Ka’bah yang kita lewati dalam satu lingkaran Thawaf adalah bagian yang berbeda – beda dan gerakan inipun berulang – ulang sebanyak 7 kali.
Dalam melaksanakan ritual Thawaf tadi, kita menjadikan Ka’bah sebagai pusat gerakan kita. Dimana Ka’bah merupakan sebuah bangunan yang membentuk sebuah ruang di dalamnya yang dapat kita ambil maknanya.
Ka’bah adalah pola ruang tandingan atas piramida, antara kebebasan dengan tirani.
Ka’bah memiliki pola yang sama antara dasar bangunan dengan atapnya yang memberikan kebebasan bagi siapapun untuk mencapai tingkat tertinggi tanpa harus menginjak yang lain karena setiap manusia yang menginginkan posisi yang tinggi harus mampu terlebih dahulu membangun tiang – tiang (rukun) Iman dan Islam sebagai tiang panjatan menuju tempat yang tinggi.
Sedangkan piramida adalah lambang penguasaan manusia atas manusia yang lain karena bentuk atas bangunannya sangat sempit mengerucut bila dibandingkan bentuk dasar bangunannya dan untuk mencapai puncaknya kita tinggal memanjat lewat kemiringan sisi bangunan piramida tersebut dan begitu sampai di atas kita harus mendorong orang yang terlebih dahulu sampai di puncak piramida, karena bidang pijakan bagian atas piramida hanya cukup untuk satu orang saja. Jika memiliki kesempatan mencapai puncak, kita harus waspada karena akan banyak orang yang akan mendorong jatuh diri kita.
Kebebasan yang berasaskan musyawarah (demokrasi) yang berlandaskan pada hukum tentang pola ruang gerak yaitu Al Qur’an dan Al Hikmah.
Tidak ada kedamaian tanpa keadilan, tidak ada keadilan tanpa kebebasan gerak, tidak ada kebebasan gerak tanpa ruang gerak dan tidak ada ruang gerak tanpa hukum absolut tentang ruang gerak.
Mari kita bangun Ka’bah (The Cube) dengan gerak melingkar yang menyeluruh (thawaf).
Jangan biarkan akal menutup hati kita, jangan biarkan hati menutup akal kita.
Biarkan akal menerangi hati kita dan biarkan hati menerangi akal kita..

 Catatan : Untuk lebih memahami makna pola ruang Al Qur'an dapatlah kiranya membaca tulisan dalam blog ini berjudul : Manhaj Al Bait Al Atiq